"Berlebihan" Itu Tak Punya Nilai Lebih

Dalam akun resmi kubu Jokowi-JK (presiden dan wakil presiden tepilih) di Facebook dengan nama Jokowi Center, publik diminta memberikan pandangan mengenai siapa yang cocok menjadi menteri kabinet periode 2014-2019.

Ada 34 jabatan menteri yang disodorkan kepada publik, dan untuk masing-masing pos ada tiga (nama) calon. Ada pula opsi untuk mengisi sendiri nama tokoh di luar tiga calon yang ada.

Jokowi membenarkan bahwa laman itu dibuat oleh timnya.

"Ini baru minta masukan saja. Ndak apa-apa kan?" ujar Jokowi di Balaikota, Jakarta, Kamis (24/7/2014) siang. Sumber: Kompas

Kepada Jokowi harus dikatakan, “Memang ndak apa-apa, Pak Joko. Tetapi untuk apa?” Buat apa rakyat diminta memberikan pendapat? Presiden—kalau memang sudah punya rencana untuk menuju “Indonesia hebat”—seharusnya sudah tahu apa yang akan dia lakukan dalam lima tahun mendatang, untuk berbagai bidang (kementerian), dan dia harus menunjuk orang yang dia nilai sanggup melaksanakan rencana itu sebagai menteri.

Pendapat publik tidak relevan untuk ini—walau seperti yang disebut Jokowi, sekadar minta masukan—karena:

  1. publik tidak tahu persis, apa rencana pemerintah yang akan dipimpin presiden terpilih; dan
  2. penilaian publik akan banyak dipengaruhi kedekatan (termasuk ikatan primordial), citra, dan popularitas yang terbentuk karena sering muncul di media massa, bukan popularitas yang dibangun atas dasar kompetensi.

Demokrasi itu baik. Tapi tidak untuk semua hal kita harus mendengar keinginan orang banyak secara langsung. “Berlebihan” itu tak punya nilai lebih. Jika ingin berdemokrasi secara “lebay”, kenapa tidak sekaligus ketika memilih presiden rakyat diminta menentukan, siapa untuk menjadi menteri apa. Sesudah itu, kalau presiden dan wakil presiden sudah terpilih, minta lagi pendapat rakyat selanjutnya (walau tidak menyangkut kepentingan umum, tapi menyangkut selera publik), dengan gaya seperti apa sebaiknya sisiran rambut presiden, dan kayak apa sebaiknya cukuran kumis wakil presiden.

Sudahlah … bekerjalah dengan benar dan secara wajar. Jangan jadikan lakon “sok mendengar suara publik” menjadi tontonan yang tak perlu dan berlebihan …

Sumber: Masmimar Mangiang

Saya selalu menaruh perhatian pada beberapa dosen favorit saya, termasuk Bang Mimar. Khusus Bang Mimar, saya termasuk penggemar beliau karena saya anggap pemikiran dan pendapat beliau selalu menarik untuk dicermati. Saya juga kerap mengutip berbagai penyataan beliau yang saya repost di Tumblr.

Terkait apa yang beliau sampaikan di atas, saya setuju dan ini bukan karena saya pendukung calon sebelah, tapi memang saya sepakat bahwa jika memang kalau memang sudah punya rencana untuk menuju “Indonesia hebat”, Jokowi (dan JK) seharusnya sudah tahu apa yang akan dilakukan dalam lima tahun mendatang, termasuk untuk urusan berbagai bidang (kementerian), dan dia harus menunjuk orang yang dia nilai sanggup melaksanakan rencana itu sebagai menteri.

It wouldn’t be a happy birthday without having friends like you, guys! 

Thank you for all your birthday wishes, prayers, and blessings!

Sekejap banyak merujuk ke pasal 246 (1) UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden. Sayangnya, mereka tidak cermat. Pasal ini tidak berlaku terhadap pengunduran diri Prabowo. Kenapa? Karena pemungutan suara sudah terlaksana pada 9 Juli lalu.

Penulis: Dosen FH UI

Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli untuk seluruh anak penerus masa depan bangsa ini! Negaramu membutuhkan kamu!

Deutschland ist Weltmeister!

And the dream comes true in 2014!

(Source: dankebvb)

“We have one of the strongest squads I’ve ever played in. We have two excellent players for every position and everyone believes in each other. We have created excellent team spirit during the tournament and with those magnificent players growing up together it makes it easier.”

- Per Mertesacker (via germanynt)

(Source: cruyffsbeckenbauer)

I Wish I Were Still in Russia

I was in Russia for two weeks. I believe It was the happiest two weeks for the past three months. Firstly I thought it was because I enjoyed the trip a lot. Well, I did. But then, I realized that it was because I completely didn’t read any bloody stuffs about our presidential election when I was in Russia. I didn’t care about what was going on about the presidential election in Indonesia for two weeks, I didn’t care about politics, and it made me so happy. It was the core of the two weeks happiness—no politics.

This presidential election stuffs have gone over the limit! This is the worst—as far as I can remember—situation that we, Indonesians, have ever faced. I read some people are sick of this, they said, “It’s enough!”, yet they still published those bloody stuffs on their wall or their tweets. People post bloody comments and most of them are full of hate. You even have no idea whether it’s true or not, you just keep sharing and publishing the hateful post about the candidate you don’t support, and I see people enjoy this new daily activity very much.

Of course, I am not an anti-politics guy. Don’t you say that I don’t care about our country’s future. Who said? It’s just, this situation has made me too sick of our political situation. Just, too sick. That’s all. Thank you.

archive older ›
Tout le monde ne peut pas devenir un grand artiste, mais un grand artiste peut surgir n’importe où.

stats counter
Web Counter


My status

Bonjour à Tous ! followers

View Fauzan Al-Rasyid's profile on LinkedIn



Ask
theme by Robin Wragg